Nenek Putih Darah Tunjuk
MIRIDAWATI PUTRI dan SARI LUNA
Awal mulanya ada dua adek kakak sedang menumbuk padi di Lesung dalam melakukan hal tersebut terjadilah perdebatan di antara mereka berdua. Nama nenek tersebut "Nampak Permata” atau kakaknya dan adeknya bernama "Celako meko". Namun gara-gara pertengkaran tadi maka pergilah adeknya melalui gunung, Jadi lama-lama kemudian adeknya nggak kunjung pulang kampung, maka di carilah Sama neneknya adeknya tadi terus lama-lama kemudian udah berjalan terlalu jauh terlihatlah asap api di ujung kampung, maka di Susullah sama sang nenek itu kesumber api tersebut, dan nenek itu berkata dalam hati “Siapa yang ada di Sana” disusullah Sama nenek itu kesana, Waktu itu nenek membawa tempat Soda dan adeknya itu membawa Penutup Soda, bertemulah sang nenek tadi sama adek itu, kata nenek itu kalo iya kita ada hubungan keluarga apa buktinya, di keluarkanlah Sama neneknya tempat soda tadi dan di keluarkan Juga Sama adeknya penutup soda, di sesuaikanlah benda itu dan ternyata cocok kata neneknya, Iya kita keluarga karena udah lama terpisah maka dapat adeknya tadi di desa Pangkalan ini.
Asalnya dari Sumatra barat daerah pagaruyung, nenek itu pergi dari kampungnya ke sungai ngiang atau singingi pada tahun 335 M abad ke-4. Waktu itu masih banyak lautan daripada daratan. Waktu itu sang nenek berlayar pakai kayu katorikulin yang bergayung sebilah bambu, hari berganti hari berlayar minggu berganti bulan bulan berganti tahun lama-lama terlihat sama nenek tadi sebuah ujung bukit maka berhentilah sang nenek tadi di sana, kecapeanlah nenek tadi maka nenek tersebut membuat tempat duduk yang dinamakan balai-balai. Maka nama tempatnya gunung balai yang terletak di antara muara lembu dengan pangkalaan, itulah bukit yang paling tinggi di antara muara lembu dan pangkalan, istirahatlah nenek tadi disitu kemudian melihat-lihatlah nenek tadi di sekitarnya, maka terlihatlah daratan sama nenek tadi maka di telusurilah sama nenek itu. Udah sampai di daratan maka terdengarlah Sungai terngiang-ngiang maka dicarilah sumber suara Sungai itu, dan itulah Sungai yang dinamakan Sungai ngiang dan pada akhirnya sekarang yang dinamakan Sungai singingi, diikutilah Sungai itu sama nenek tadi.
Pepatah lama mengatakan dalam perjalanannya “Nan Maate Kalimuntiang Nan Maundukapasosak” itu dalam Bahasa daerahnya Jadi lama kemudian Sampailah dia di tanah atau dataran yang luas tanah yang Subur, Jadi kenapa namanya desa Pangkalan indarung, Sebab awalnya melangkah itu membuat desa di Singingi ini yaitu dari pangkalan indarung "artinya pangkal jalannya dari desa pangkalan indarung" dan akhirnya jadilah sebuah kampung, nenek itu kemudian mengilirkan Sungai, udah merasa Jauh nenek itu mengilirkan Sungai, maka terlihat lagi tanah yang bagus dan nenek itu udh merasa jauh perjalanannya maka nama desanya tanjung pauh, kemudian nenek itu jalan lagi maka Singgah pula nenek itu di Muara lembu .
Meskipun Desa Logas dan Desa Logas Hilir telah terpisah secara administratif, keduanya tetap memiliki satu kesatuan sejarah, budaya, dan identitas sosial yang kuat. Oleh karena itu, pelestarian sejarah lokal menjadi penting sebagai bagian dari upaya menjaga jati diri masyarakat serta mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan.
Di muara lembu ini ada sebuah Sungai simpang kiri hulu, waktu itu nenek itu menemukan seekor lembu yang besar sedang mandi-mandi di muara Sungai, itulah Namanya muara lembu “ seekor lembu yang besar mandi di muara Sungai”. Kemudian nenek itu pergi lagi ke pangkalan indarung dan disinilah tinggal nya nenek itu ada di pangkalan ini, sebuah Sungai cabang kiri di muara Sungai itu ada sebatang kayu naung, kayu naung itu Adalah kayu yang lembut, waktu itu ada tore di dalamnya yang Namanya “Tore Naung” dan itu sebabnya dinamakan Sungai Batang Naung.Nenek itu tinggal di pangkalan indarung selama beberapa tahun, kemudian nenek itu pergi lagi ke tanjung pauh, di tanjung pauh ini nenek itu tinggal selama beberapa tahun, kemudian nenek itu pergi lagi ke muara lembu, di muara lembu ini nenek itu tinggal selama beberapa tahun, kemudian nenek itu pergi lagi ke desa logas hilir, di desa logas hilir ini nenek itu tinggal selama beberapa tahun, kemudian nenek itu pergi lagi ke desa logas, di desa logas ini nenek itu tinggal selama beberapa tahun, kemudian nenek itu pergi lagi ke desa logas hilir, di desa logas hilir ini nenek itu tinggal selama beberapa tahun, kemudian nenek itu pergi lagi ke desa logas, di desa logas ini nenek itu tinggal selama beberapa tahun, kemudian nenek itu pergi lagi ke desa logas hilir, di desa logas hilir ini nenek itu tinggal selama beberapa tahun, kemudian nenek itu pergi lagi ke desa logas, di desa logas ini nenek itu tinggal selama beberapa tahun, kemudian nenek itu pergi lagi ke desa logas hilir, di desa logas hilir ini nenek itu tinggal selama beberapa tahun, kemudian nenek itu pergi lagi ke desa logas, di desa logas ini nenek itu tinggal selama beberapa tahun, kemudian nenek itu pergi lagi ke desa logas hilir, di desa logas hilir ini nenek itu tinggal selama beberapa tahun, kemudian nenek itu pergi lagi ke desa logas, di desa logas ini nenek itu tinggal selama beberapa tahun.
Itulah berdasarkan Namanya Desa Pangkalan Indarung, yang pertama pangkal jalan nenek, yang kedua di sambungkan pada Tore Naung. Kemudian nenek tadi mau memperluas kampung, jalanlah sedikit membuat lahan dia disana. Pada suatu saat nenek itu menjahit baju yang robek hampir waktu magrib di depan pintu. Waktu itu rumahnya rumah panggung pakai tangga. Dalam menjahit tadi tidak sengaja jatuh penjahit tadi ke bawah tangga, hari udh mulai gelap di ambil lah penjahit tadi ke bawah tangga itu tanpa senter di carinya penjahit tadi, tidak sengaja kena tunjuk nenek itu gara-gara penjahit tadi maka berdarahlah tunjuk nenek tadi dan darahnya putih sehingga memancarkan Cahaya untuk mencari penjahit tadi. Setelah itu nenek itu di beri gelar “ Nenek Putih Darah Tunjuk” yang sekarang bertempat di seberang kampung dan sampai sekarang masih di Ziarahkan oleh desa Pangkalan Indarung dan waktunya tiap lebaran Idul Fitri.
Adek nya bergelar “ Niniak Datuk Lelemengkuto” Itu niniak suku chaniago, Kakaknya suku Paliang. Jadi kalau menurut pepatah adat wari yang di jawek pusako yang di tolong. Di singingi ini. yang ba bapak ke pangkalan, ba ibu ke tanjung pauh, ba mamak ke muara lembu.